Pantai Ancol (Pengalaman Pertama ke Pantai Ancol)

Masih tulisan tentang pengalaman lama. Kali ini pengalaman pertama pergi ke Ancol.
Sabtu 5 Maret 2016.

Aku ke sana dengan Mbak Normi, kawan di kos yang pernah aku ceritakan di Pengalaman ke Planetarium Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM). Tanpa rencana sebelumnya, tiba-tiba pada hari itu tercetus saja ide ke sana ketika sama-sama ada waktu luang. Kami berangkat siang hari naik busway dari halte Salemba Carolus sampai halte Ancol, tanpa transit. Perjalanan lancar kira-kira 45 menit, tapi kalau macet bisa sampai 2 jam.

Setiba di halte Ancol, kami mengikuti orang-orang naik ke atas untuk menuju pintu masuk. Di sana membeli tiket masuk seharga Rp 25.000 per orang, itu sudah termasuk naik bus wara-wiri (angkutan bus mini gratis di dalam area Ancol) sepuasnya. Penampakan busnya gak sempat ngefoto, google aja ya, hehe.
Kami naik bus wara-wiri dua kali. Yang pertama naik dari dekat halte busway, lalu turun di danau buatan yang ada tulisan Welcome to Ancol.

(Kami turun di sini dan menunggu bus wara-wiri jalur utara)

(Dari tempat nunggu kelihatan Gondola atau biasa dikenal dengan cable car. Sebenarnya aku sudah punya rencana dari jauh-jauh hari kalau Sabtu depan akan ke Ancol dan naik Gondola dengan kawan-kawan di Tangerang, sudah pesan voucher promo, tapi karena hari ini nganggur sekaligus menemani Mbak Normi jadi ya oke-oke aja berangkat, Sabtu depannya ke Ancol lagi wkwk)

Tak berapa lama kemudian bus wara-wiri jalur utara datang, kami naik dan selanjutnya ngikut orang-orang yang tujuannya pantai.

Selama ini (sejak kecil), aku pikir Ancol dan Dufan adalah 2 tempat wisata yang berbeda. Ternyata, Dufan hanyalah salah satu wahana di area luas yang bernama Taman Impian Jaya Ancol. Jadi, kalau mau ke Dufan otomatis harus masuk ke area Ancol dulu, alias bayar 25 ribu dulu di gerbang depan, itu belum biaya masuk Dufan. Selain Dufan, di Ancol juga ada Ocean Dream Samudra, Atlantis Water Adventure, Seaworld, dan masih banyak lagi. Info lebih lengkap termasuk harga tiketnya bisa dicek di web resmi Ancol. Oh ya waktu kecil (TK/SD) dulu aku pernah memasukkan Ancol dan Dufan dalam daftar impian tempat yang ingin dikunjungi.

Waktu yang pendek (tiba di sana sudah mendekati Asar) sehingga tujuan kami hanya ke pantai. Di sini ada beberapa pantai, kurang tahu persisnya masing-masing, kami ke salah satu pantai yang cukup ramai dan biasa dipakai shooting FTV. Eits, jangan dikira penggemar FTV ya, cuma sekedar tahu sekilas aja kok wkwk.

Turun dari bus masih perlu jalan kaki sedikit untuk ke pantai. Setiba di pantai, kami menonton rombongan senam pantai yang lagi senam (ya iyalah namanya juga rombongan senam, masa lagi nyangkul). Lalu berkeliling sekiar pantai dan foto-foto. Kebetulan waktu itu ada persiapan untuk acara INB*X besok paginya (sepertinya).

(Ada persiapan untuk acara INB*X)

Pasir putih di sini lumayan bagus untuk ukuran pantai yang lokasinya sangat mudah dijangkau.

(Bukan anak gaul INB*X lho ya, cuma numpang foto doang, kan dulu waktu masa remaja juga sempat nonton INB*X di tipi. Oh ya harap diabaikan saja laki-laki yang ada di situ itu: pengunjung yang gak jelas siapa nyelonong aja pas orang lagi foto, ngantri dong mas...)

Setelah itu kami jalan memutari jembatan.
(Salah satu keunikan dari Pantai Ancol dibanding pantai lain di Indonesia adalah adanya pemandangan gedung bertingkat yang tinggi. Ya iyalah kan letaknya di kota, haha)

Sempat juga mengamati ubur-ubur yang lewat di bawah jembatan, kemudian inget cerita Abang Borno yang ayahnya meninggal disengat ubur-ubur saat melaut (Novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah-nya Tere Liye).
(Ubur-ubur)

Saat memutari jembatan, sempat ada perahu dengan nelayan yang menawarkan ikan dan udang segar. Sebenarnya kepingin, udangnya besar-besar dengan harga murah, tapi apa daya kami tinggal di kosan yang gak ada dapurnya dan gak punya tools untuk mengolahnya, hikss.

(Nelayan menawarkan bahan makanan laut)

Lelah berkeliling, selanjutnya kami duduk santai menikmati desir angin laut yang lembut, menonton pertunjukan motor air, lalu makan di gerai makanan cepat saji yang ada di sana, kemudian bersiap pulang. Sebenarnya masih betah di sana, makin malam makin rame pengunjung (kan malam minggu). Tapi karena kami tidak membawa kendaraan, otomatis mengandalkan bus wara-wiri yang makin jarang dan bus terakhirnya jam 7 malam.

(Foto dikit boleh lah ya sambil nunggu datangnya bus wira-wiri)

Untuk ukuran refreshing singkat, ini pengalaman yang menyenangkan :D
Alhamdulillah.

Comments

Post a Comment